Salurkan Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf anda ke ZISWAF al-Muhajirin

Panitia Renovasi Masjid Al-Muhajirin

renovasi Masjid Al-Muhajirin ke Bank Syariah Mandiri KCP Jatinangor an. Panitia Renovasi Al Muhajirin Nomor Rekening 1000-555-777

iklan

jazakamullah ahsanal jaza' semoga Allah SWT akan membalas kalian dengan balasan yang terbaik. aamiin yaa robbal 'alamiin...

Senin, 07 Januari 2013

REZEKI HALAL PENYEBAB MAKBULNYA IBADAH

aris saptiono


REZEKI HALAL PENYEBAB MAKBULNYA IBADAH
Hai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik apa yang Kami rezekikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah jika hanya kepadaNya kamu beribadah.                  Q.S. Al Baqarah : 172
Tafsir Mufradat
Ath-thayyibaatu adalah bentuk jamak dari Ath-thayyibatu yang berarti baik. Makna asal thayyib adalah sesuatu yang dirasakan kelezatannya oleh indra perasa dan jiwa. Makanan yang thayyib menurut syariat adalah makanan yang didapat dengan cara, ukuran, dan tempat yang diperbolehkan. Jika memenuhi persyaratan ini, makanan tersebut thayyib di dunia dan akhirat serta tidak membahayakan kesehatan. Ar Raghib Al Ashfahani :321
Asy-syukru adalah mengakui adanya nikmat serta menyatakannya. Syukur terbagi tiga, Syukur kalbu adalah mengakui adanya satu nikmat, syukur lisan memuji kepada si pemberi nikmat, dan syukur anggota badan menggunakan kenikmatan tersebut pada semestinya.  Ar-Raghib : 272
Tafsir Ayat
Ayat diatas (Q.S. Al Baqarah : 172) secara khusus Allah swt. memerintah kaum mukminin mengkonsumsi rezeki yang thoyyib. Ayat ini merupakan penegasan dari perintah sebelumnya. (Al Baqarah : 168) yang secara umum Ia memerintah manusia memakan makanan yang halal dan thayyib. Dan yang dimaksud memakan pada ayat ini adalah mengambil manfaat dengan cara apapun. Al Qurtubi, Jamiul Ahkam, II:215
Firman Allah swt. ini diawali dengan kalimat Ya ayyuhal ladzina amanu, yang merupakan pertanda betapa pentingnya masalah yang akan disampaikan pada kalimat-kalimat selanjutnya. Dari Ibnu Abbas bahwasannya ada seseorang datang kepadanya, lalu berkata,”berwasiatlah Anda untukku”. Ia berkata, “Apabila mendengar Allah berfirman, “Ya Ayyuhal ladzina amanu’ pusatkanlah pendengaranmu kepadanya, karena ada sebaik-baik perkara yang Allah perintahkan atau sejelek-jelek perkara yang dilarangNya.                        Ad-Durul Mantsur,I:252
Pada ayat ini, setelah Allah swt. mengawali firmanNya dengan kalimat Ya ayyuhal ladzina amanu, Ia memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin memakan rezeki yang thayyib dan bersyukur kepadaNya jika mereka benar-benar beribadah kepadaNya.
Menurut Az Zamakhsyari, “yang dimaksud dengan rezeki yang thayyib adalah segala kelezatan yang Allah swt berikan. Karena setiap yang Allah rezekikan hanyalah dari sesuatu yang halal, baik zat maupun cara mendapatkannya. Selain itu pada hakekatnya bukanlah rezeki yang diperuntukan bagi mereka. Dan jika dipaksakan untuk meraih, memiliki dan menikmatinya,tentu akan menjadi satu penyakit yang kotor, yang suatu saat pasti akan memaksa keluar dari jalan yang tidak diinginkan.
Bersyukur kepada Allah swt. atas segala nikmat yang diberikannya akan terbit dari hati, lisan, dan anggota badan seseorang jika kenikmatan yang ia raih berasal dari rezeki yang halal. Sekecil apapun bagian yang ditetapkan Allah baginya, ia akan menerima dengan sebesar-besar penerimaan dan hidupnya akan merasa tercukupi dengan bagian tersebut. Sebaliknya jika kenikmatan yang diraihnya bearsal dari rezeki yang haram,sebesar apapun bagian yang Allah tetapkan akan selalu diterima dengan serba kekurangan dan batinnya akan selalu tersiksa dengan masalah-masalah yang tidak diharapkannya.
Ayat diatas mengisyaratkan adanya satu hubungan yang sangat erat antara diterima tidaknya ibadah kepada Allah dengan rezeki yang digunakan oleh seseorang. Menggunakan rezeki halal merupakan salah satu penyebab diterimanya doa dan ibadah, sebaliknya menggunakan rezeki haram merupakan penghalang diterimanya doa dan ibadah.
Nabi saw. bersabda, “Hai manusia, sesungguhnya Allah itu thayyib (Maha Baik). Ia tidak akan menerima sesuatu kecuali yang thayyib pula. Dan sesungguhnya Allah memerintah orang mukmin dengan apa yang diperintahkannya kepada para RasulNya. Ia berfirman, ‘Hai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramal shalihlah, karena sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ (Q.S. Al Mukmin:51). Dan Ia berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman makanlah yang baik yang Kami rezekikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika hanya kepadanya kamu beribadah’. (Q.S. Al Baqarah:172). Kemudian Rasulullah saw. menceritakan sesorang yang sedang dalam perjalanan jauh, badannya penuh dengan debu, ia menadahkan kedua tangannya ke langit sambil berdoa,’Ya Rabbi’, Ya Rabbi’. Sedangkan makanannya dari yang haram, minumnya dari yang haram dan badannya pun tumbuh dari barang yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya itu akan dikabulkan?” H.R. Ahmad dari Abu Hurairah


Pada riwayat lain Ibnu Abbas menceritakan bahwa Saad bin Abi Waqas pernah meminta kepada Nabi saw.
“Ya Rasulullah, berdoalah Anda kepada Allah, supaya Ia menjadikanku orang yang selalu dikabulkan bila berdoa!” Rasulullah saw. bersabda, ‘Ya Saad, bersihkanlah makananmu, pasti engkau menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi yang diri Muhammad  berada pada kekuasaanNya, (demi Allah) sesungguhnya seseorang yang menelan sesuap barang haram di perutnya, tidak akan diterima doa dan ibadahnya selama empat puluh hari empat puluh malam. Serta hamba manapun yang badannya tumbuh dari barang haram dan riba, nerakalah yang pantas untuk menerimanya.” H.R. Mardawaih
Kedua riwayat diatas menunjukan betapa sangat menentukannya thayyib tidaknya rezeki yang kita gunakan terhadap diterima tidaknya doa yang kita panjatkan dan ibadah yang kita kerjakan.
Rasulullah saw. itu doanya selalu terkabul. Beliau bukan tidak mau atau tidak bisa mendoakan Saad bin Abi Waqas, akan tetapi apalah artinya doa Rasulullah saw. yang selalu terkabul itu, jika pada diri Saad bin Abi Waqas belum ada wadah untuk menerimanya, yakni masih terhalang oleh rezeki yang haram. Oleh karena itu, beliau terlebih dahulu menyuruh Saad membersihkan dirinya dari barang yang haram.
Wallahu a’lam bish Shawab

2 komentar:

  1. syukron kang Aris, Kumaha lamun tauziahnya di tambihan dina ngaos mingguan sareng kultum shubuh di Mesjid Al-Muhajirin supados masjid urang langkung ma'mur sareng ilmuna tiasa di bagikeun langsung ka jama'ah, da sigana seueur jamaah urang masih jarang nganggo internet. salam cecep

    BalasHapus
  2. Insya Allah, Hatur nuhun Pak Cecep. ieu mah nuju diajar urat oret ti dapur, sementawis wois Pak Cecep atanapi anu sanes anu neraskeun ilmuna ka jamaah.

    Perkawis Kultum/Tauziyah asa ararisin, seueur anu sanes anu langkung luhung ilmuna. teras sim kuring masih jarang ka masjidna.

    Syukron Pak cecep kana perhatosanana...

    BalasHapus