Salurkan Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf anda ke ZISWAF al-Muhajirin

Panitia Renovasi Masjid Al-Muhajirin

renovasi Masjid Al-Muhajirin ke Bank Syariah Mandiri KCP Jatinangor an. Panitia Renovasi Al Muhajirin Nomor Rekening 1000-555-777

iklan

jazakamullah ahsanal jaza' semoga Allah SWT akan membalas kalian dengan balasan yang terbaik. aamiin yaa robbal 'alamiin...

Selasa, 26 Februari 2013

KEUTAMAAN MEMBANGUN DAN MEMAKMURKAN MASJID


Ust. Aminudin, M,Ag
KEUTAMAAN MEMBANGUN DAN MEMAKMURKAN MASJID
A.    Pengertian Masjid
Masjid secara bahasa berarti tempat yang digunakan untuk sujud. Kemudian penngertian tersebut dipakai untuk pengertian sebuah bangunan yang didirikan untuk tempat berkumpul kaum muslimin guna mengerjakan shalat. Arti masjid dikhususkan sebagai tempat yang disediakan untuk mengerjakan shalat lima waktu, sehingga tanah lapang yang biasa digunakan untuk melaksanakan shalat Id dan lainnya tidak disebut masjid. Masjid dalam pengertian syar’i merupakan tempat yang disediakan untuk mengerjakan shalat lima waktu untuk selamanya. Kemudian masjid ini mengalami perluasan fungsi sesuai dengan akar kata masjid itu sendiri; sajada-sujud yang mengandung makna tunduk dan patuh, maka hakikat masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah semata.
Tetapi asal arti masjid adalah setiap tempat di bumi yang dijadikan tempat sujud kepada Allah Swt. Pengertian ini didasarkan pada Hadits Jabir ra, dari Nabi Saw., beliau bersabda: “... dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan alat bersuci, maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat, hendaklah ia mengerjakan shalat (di mana saja berada).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini termasuk kekhususan yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw, beserta umatnya, karena para Nabi sebelumnya hanya diperbolehkan mengerjakan shalat di tempat-tempat tertentu, seberti biara atau gereja.
B.     Membangun dan Memakmurkan Masjid
Banyak dalil yang menunjukkan perintah untuk membangun dan memakmurkan masjid, antara lain sebagaimana firman Allah Swt:
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Taubah (9): 18)
Kategori memakmurkan masjid termasuk di dalamnya adalah membangunnya, menjaga kebersihannya, melengkapi sarana dan prasaranya, membuat penerangannya, mendirikan shalat di dalamnya, belajar mengajar ilmu-ilmu yang bermanfaat di dalamnya,
Nabi Muhammad Saw pun memberikan motivasi untuk membangun masjid, sebagaimana diriwayatkan dari Usman bin Affan, dari Nabi Saw. Bahwa beliau bersabda: “Barang siapa yang membangun masjid karena Allah, “(dalam riwayat Bukar ada tambahan lafaz)”:   semata-mata untuk mencari keridhaan Allah, niscaya kelak di surga Allah akan membuatkan rumah untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Barang siapa yang membangun masjid, baik kecil maupun besar, semata-mata untuk mencari ridha Allah, niscaya kelak di surga Allah akan membangun rumah untuknya.” (HR. Tirmizi)
Tentang keutamaan membangun dan memakmurkan masjid, Rasulallah Saw pernah bersabda sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah ra:
“Sesunggguhnya di antara pahala amal dan kebaikan yang tetap akan diperoleh oleh seorang mukmin setelah meninggal adalah ilmu yang diajarkan dan dia sebarkan, anak shaleh yang dia tinggalkan, mushaf yang dia wariskan, masjid yang ia bangun, rumah musafir yang ia bangun, sungai yang ia alirkan airnya, atau shadaqah yang dikeluarkan dari hartanya pada waktu sehat dan pada waktu dia sangat memerlukannya. Semua itu akan tetap peroleh pahalanya setelah matinya.”
 ( HR. Ibnu Majah).
C.    Pembangunan Masjid Al Muhajirin

Masjid, khususnya masjid besar harus mampu melakukan sepuluh peranan sebagaimana yang diemban oleh masjid Nabawi, sejarawan mencatat yaitu sebagai:
1.      Tempat ibadah (shalat, zikir)
2.      Tempat konsultasi dan komunikasi
3.      Tempat pendidikan
4.      Tempat santunan sosial
5.      Tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya
6.      Tempat pengobatan para korban perang
7.      Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa
8.      Aula dan tempat menerima tamu
9.      Tempat menahan tahanan
10.  Pusat penerangan atau pembelaan agama 

Dalam konteks kekinian masjid dapat dikatakan berperan dengan baik apabila memiliki ruangan, sarana dan prasarana yang memadai untuk :
1.      Ruang shalat yang memenuhi syarat-syarat kesehatan
2.      Ruang khusus perempuan yang memungkinkan mereka keluar masuk tanpa bercampur dengan lelaki
3.      Ruang pertemuan dan perpustakaan
4.      Ruang poliklinik, dan ruang untuk pemulasaraan jenazah
5.      Ruang bermain, berolah raga, dan berlatih bagi remaja.
(Hasil Muktamar Risaltul Masjid 1975)
Masjid Al-Muhajirin yang tergolong masjid jami’ dituntut agar berfungsi sebagai pusat pembinaan umat, pastinya sarana yang dimiliki harus lengkap, menyenangkan dan menarik semua lapisan umat, baik dewasa, kanak-kanak, tua, muda, laki-laki maupun perempuan.
Mengingat saat ini fisik bangunan dan fasilitas masjid al-Muhajirin masih sangat terbatas, maka atas inisiatif pengurus dan jamaah, masjid al-Muhajirin yang kita cintai dan banggakan ini akan direnovasi dan dikembangkan menjadi masjid yang ideal.   
Mengingat biaya yang dibutuhkan cukup besar, maka partisipasi jemaah dan kaum  muslimin pada umumnya sangat-sangat diharapakan.
Rencana Pengembangan di mana masjid akan dibangun menjadi dua lantai dengan luas bangunan : 600 m2.  Estimasi biaya : Rp. 1.252.748.581,-  terbilang  (satu milyar dua ratus lima puluh dua juta tujuh ratus empat puluh delapan ribu lima ratus delapan puluh satu rupiah) biaya yang dibutuhkan rata-rata per meter persegi (m2) Rp. 2.087.914,30. Terbilang (dua juta delapan puluh tujuh ribu sembilan ratus empat belas rupiah).
Partisipasi jamaah dan kaum muslimin dapat berupa:
1.      Membantu pencarian dana dengan mengajukan proposal baik kepada instansi pemerintah, swasta, kepada para agniya atau pada diri sendiri.
2.      Pembelian atau penyebaran kupon infak shadaqah yang bernilai Rp. 5 000, Rp 10.000, Rp 15.000, dan Rp 20.000,
3.      Menjadi Donatur tetap yang pengumpulannya dapat melalui RT masing-masing.
4.      Lelang pembangunan masjid dengan harga/meter Rp 2.087.912,30 yang dibulatkan menjadi Rp 2.000.000,00/meter (dua juta rupiah saja) dengan pembayaran dapat diangsur dalam kurun waktu 24 bulan.

Akhirnya segenap pengurus DKM  dan panitia renovasi dan pengembangan masjid al-Muhajirin, mengajak kepada kaum muslimin dan muslimat untuk berlomba-lomba dalam kebajikan dengan menganggarkan sebagaian dari hartanya disalurkan untuk pembangunan masjid yang kita cintai dan banggakan.  Syukran jazaakumullah.


Minggu, 24 Februari 2013

IBADAH DENGAN RASA CINTA KEPADA ALLAH


A. Wahid
IBADAH DENGAN RASA CINTA KEPADA ALLAH
Seorang muslim terkadang menjadikan ibadah sebagai sarana untuk mendulang pahala sebanyak mungkin, sehingga ia berharap mendapatkan balasan dari Allah SWT berupa surga dan terhindar dari siksa api neraka. Berkaitan dengan hal ini ada sebuah dialog menarikantara NabiMuhamad SAW dengan sahabatnya. Seorang sahabat bertanya: “Apakah seorang mukmin akan dapat masuk surge dengan mengandalkan pahala yang ia peroleh dari proses ibadahnya?”Beliau menjawab; “Tidak!”.Selanjutnya Beliau bersabda; ”Tidak juga Aku,  kecuali  Allah telah memayungiku dengan rahmat danp engampunan-Nya”.[1]
Jelaslah bahwa sesungguhnya yang memasukan manusia kesurga adalah karena rahmat atau kasih saying dari Allah SWT. Bukan karena pahala dari hasil ibadahnya kepada Allah SWT. sebagimana yang disangkakan manusia. 
Namun demikian, dengan sifat rahman dan rahim, serta ghofurNya, Allah SWT menjanjikan sebuah reward (hadiah) bagi mereka yang mencintai-Nya.Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. AliImran:31,
Artinya :”Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampun idosa-dosamu." Allah MahaPengampunlagiMahaPenyayang”. (Q.S. Ali Imran : 31)[2]
Proses mencintai biasanya diawali dengan pengenalan terhadap yang dicintainya terlebih dulu. Sama hal nya dengan Allah, seorang hamba yang berusaha untuk mencintainya, makalangkah pertama yang harus ia lakukan adalah dengan mengenal-Nya. Sidi Abdul Qadir Al Jilani menyebutkan bahwa ada tiga tahapan pengenalan seorang hambater hadap Allah SWT.[3]
Pertama, mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya.Dengan mengenalsifat-sifat Allah, baiksifat jalaliyah (yang berhubungan dengankeperkasaan Allah) maupun jamaliyahnya (yang berhubungan dengan kemurahan dankelembutan Allah) akan menjadikan manusia lebih akrab dengan Allah, sebab dengan mengetahui sifat-sifatNya ia tahu bagaimana karakter Dzat yang  ia cintai tersebut.
Keduaadalahdenganmengenalnama-nama-Nya.Nama-nama Allah yang baik, sebagaimanatercantumdalamasmaalhusnaakanmemberikansebuahkekuatanbagiseoranghambaketikaiaberdo’akepada-Nya. Hal ini Allah kemukakandalam Q.S. AlA’raf : 180.
Artinya : “Hanyamilik Allah asmaa-ulhusna, Makabermohonlahkepada-Nyadenganmenyebutasmaa-ulhusnaitudantinggalkanlah orang-orang yang menyimpangdarikebenarandalam (menyebut) nama-nama-Nya. nantimerekaakanmendapatBalasanterhadapapa yang telahmerekakerjakan.” (Q.S.AlA’raf : 180)[4]
Dan yang ketigaadalahdenganmengenalaf’al-Nya.Af’aldapatdiartikansebagaiperbuatan-perbuatan-Nya, artinyadenganmengenalperbuatan Allah berupaciptaan-ciptaan-Nyaakanmenjadikanmanusiamerasalebihdekatdengan Allah sehingga rasa cinta yang mendasarinyadalamibadahakantumbuhdengansendirinya.
Kembalikepadamasalahtujuandalamibadah.DalampandanganQuraishShihab, adanyapamrihatautujuandalamberibadahkepada Allah adalahsesuatu yang dibolehkan, karenatujuandisampingmerupakantujuanutamadapatjugamenjadi “jalan yang mengantar” ketujuan yang lebihutama,  danketikaitu, jalantersebuttidaklagimenjaditujuan.[5]
PandanganQuraishShihabininantinyaakanberbedadenganpandanganRabi’ah Al-Adawiyah yang tidakmenerimatujuan lain dalamberibadah, kecualiatasdasarcinta  (mahabbah) kepada Allah SWT. Sehinggaapapun yang dilakukanolehmanusiamakadasarnyaadalahharuskarenacinta, bukankarenatakutataukarenamengharapsesuatu.
Rasa cinta (mahabbah) seorang hamba kepada Tuhannya, seyogyanya  merupakan sebuah kesatuan tak terpisahkan  dengan ibadah yang dilakukannya. Seorang hamba diharapkan ketika beribadah didasari oleh rasa cinta kepada Allah SWT., bukan hanya karena menjalankan suatu kewajiban yang seolah-olah memaksa, dan karena tergiur untuk mendapatkan hadiah (pahala) berupa surga atau takut akan ancaman Allah berupa neraka.
Ketika rasa cinta kepada Allah sudah melekat dalam hati sanubari seorang hamba, maka seluruh perintah dan larangan yang termaktub dalam al-qur’an maupun hadits tidak dianggapnya sebagai sebuah beban yang sangat memberatkan, melainkan justru menjadi sarana bagi hamba tersebut untuk mewujudkan rasa cintanya kepada Sang Khalik.
Kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya dalam beribadah merupakan sesuatu yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam kehidupannya, rasul begitu mencintai Allah SWT. Beliau adalah sosok manusia yang mulia yang sudah diampuni dosanya, sehingga seberapapun kesalahan yang dilakukan pasti akan terampuni, sebagaimana tercermin dalam sifat Beliau yang ma’shum. Kondisi semacam ini tidak menjadikan rasul lalai dalam menjalankan ibadah, justru sebaliknya rasul semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya. Satu hal yang menjadi dasar rasul melakukan itu adalah karena Beliau sangat mencintai Allah SWT.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana cara menumbuhkan rasa cinta dalam ibadah kepada Allah SWT. terutama terhadap anak. Paling tidak ada empat langkah yang harus dilaksanakan.Pertama, riyadhoh, yaitu latihan atau pembiasaan dalam menjalankan macam-macam ibadah.
Kedua, mujahadah, yaitu kesungguhan atau upaya serius seorang hamba untuk mencintai Allah dengan melaksanakan berbagai perintahnya . Ketiga, menumbuhkan rasa bangga, orang tua harus menggali kebanggaan anak terhadap keber-Islamannya, dengan kebanggaan tentang Islam inilah, maka anak akan dengan sendirinya tumbuh rasa cinta kepada Allah SWT. Dan keempat, keteladanan dari orang tua akan perilaku yang menunjukan rasa cinta kepada Allah, akan menyebabkan anak didik terstimulasi kecintaannya kepada Allah SWT.
Demikianlah, sekelumit tentang beribadah yang didasari oleh rasa cinta kepada Allah SWT, dan upaya penanamannya pada anak, mudah-mudahan kita semua mampu menjadi orang yang selalu mahabbah kepada Allah SWT dalam menjalankan berbagai bentuk peribadatan dalam hidup ini.


[1]KH.M.CholilBisri, IndahnyaTasawuf, Yogyakarta, Pustakaalief, 2003.hlm. 2
[2]Departemen Agama, Al-Qur’andanTerjemahnya, Bandung, LubukAgung, 1989
[3]Sidi Abdul Qadir Al Jilani, FiqihTasawuf, Penerjemah Abdul GhaffardarijudulasliAl Ghuyah li ThalibiThariq al HaqfilAkhlaqwatTasawufwalAdab al Islamiyah, Bandung, PutakaHidayah, 2001, hlm.17
[4]Departemen agama, loc.cit
[5]M. QuraishShihab, MenyingkapTabirIlahi; Al-Asma’ Al-HusnadalamPerspektif al-Qur’an, Jakarta, LenteraHati, 2006. hlm.101

Jumat, 22 Februari 2013

LELANG MASJID AL-MUHAJIRIN

rencana masjid almuhajirin
Lelang Pembangunan Masjid Al-Muhajirin Komplek Griya Mitra Cinunuk Cileunyi.
Kami atasnama Panitia Pembangunan/renovasi Masjid Al-Muhajirin mengajak kepada para jama'ah khususnya Warga Komplek Griya Mitra umumnya Kaum Muslimin dan Muslimat dimanapun berada, untuk bersama-sama membangun rumah Allah Masjid Al-Muhajirin Griya Mitra. 
Insya Allah luas bangunan yang akan dibangun :
Luas Bangunan : 600m2 
Estimasi Biaya : Rp. 1.252.748.581,- 
biaya yang dibutuhkan rata-rata per meter persegi (m2) Rp. 2.087.914,30.
Kami mengajak kepada para jamaah kaum muslimin dan muslimat dimanapun berada untuk dapat berpartisipasi beramal jariyah dalam pembangunan tersebut. 
Alhamdulillah sampai saat ini telah terkumpul dari jamaah hasil lelang :
luas 11 M2 dengan biaya Rp. 22.000.000,- dengan jangka waktu 4 bln s.d 24 bulan.
atas nama panitia pembangunan kami mengucapkan jazakallah ahsanal jaza'
semoga kita senantiasa diberikan kemudahaan dalam mencari rizqi yang halal... 
siapa menyusul???? kami siap jemput.... 
  

Senin, 18 Februari 2013

PERSAKSIAN UMAT MUHAMMAD


Aris Saptiono
PERSAKSIAN UMAT MUHAMMAD
Dan begitulah Kami (Allah) telah jadikan kalian (muslimin) satu umat yang terpilih, supaya kalian jadi saksi atas manusia, sedang Rasul jadi saksi atas kalian... Q.S. Al Baqarah : 143
Tafsir Mufradat
Makna (Alwasathu) pada ayat diatas adalah (Alkhiyaaru) terpilih dan (Alajwadu) terbaik. Sebagaimana dikatakan untuk orang quraisy, Awsathu bangsa Arab baik nasab maupun tempat,yakni yang terbaik dari bangsa Arab. Rasulullah saw. pun merupakan (Wasathaa) diantara kaumnya,yakni nasabnya termulia diantara mereka. Serta kalimat (Ashsholatul wustha) seutama-seutama salat yakni ashar. Umdatu Tafsir, I : 263
(Alwasathu) juga dimaknai (Al’adlu) (adil/pertengahan), karena sebagaimana Kabah kiblat kaum muslimin itu (Wasathul ardhu) tengah-tengah bumi, maka (wakadzalika ja’alnaakum ummatan wasathaa) maknanya, kalian dibawah para Nabi tapi diatas seluruh umat. Al Qurtubi, II : 153
Munasabah Ayat
Ayat diatas (Al Baqarah : 143), berada pada rangkaian ayat-ayat yang menerangkan perpindahan kiblat kaum muslimin dari Baitul Maqdis di Palestina ke Baitullah di Makkah.
Adalah Yahudi dan Nasrani mengaku bahwasannya Ibrahim dan para nabi setelahnya adalah dari golongan mereka, serta kiblat mereka adalah Baitul Maqdis. Ketika Nabi saw. berada di Makah dan beberapa bulan di Madinah beliau pun berkiblat ke Baitul Maqdis. Namun ketika beliau diperintah untuk menghadap ke Kabah, mereka (ahli kitab) mencacinya dan menjadikan hal itu sebagai alasan untuk tidak menerima Islam. Mereka berkata, “Muhammad telah meninggalkan bapak-bapaknya, dalam waktu singkat ia telah kembali kepada agama kaumnya”. Maka Allah menurunkan rangkaian ayat yang menerangkan perpindahan kiblat sebagai jawaban atas tuduhan mereka. Ash Shabuni, I:101
Diantara rangkai ayat mengenai perpindahan kiblat itu, ayat diatas merupakan penekanan firman Allah swt, bahwasannya, “Justru Kami (Allah) pindahkan kiblat kalian ke kiblat itu bagi kalian untuk Kami jadikan kalian umat terbaik diantara seluruh umat, supaya kalian pada hari kiamat menjadi saksi atas umat lainnya, karena semuanya tahu keutamaan kalian. Umdatut Tafsir, I:263
Tafsir Ayat
Allah swt. menjadikan kaum muslimin sebagai satu umat yang terpilih dan terbaik dengan berbagai macam kelebihan dan keutamaan yang tidak dimiliki oleh umat-umat lainnya. Seperti sabda Rasulullah saw, “Umatku diberi tiga perkara yang tidak diberikan selain kepda para Nabi. Yaitu apabila Allah mengutus seorang nabi, Ia berfirman kepadanya, “Berdoalah kepadaKu pasti Ku ijabah permohonanmu”, dan begitu pun kepada umat ini, “Berdoalah kalian kepadaKu,pasti Kuijabah permintaan kalian”. Apabila Allah mengutus seorang Nabi, Ia berfirman, “Tidaklah Ia jadikan atasmu dalam agama perkara yang berat”, begitu pun kepada umat ini, Tidaklah dalam agama ini Kami jadikan perkara berat”. Dan apabila Allah mengutus seorang Nabi, Ia menjadikan saksi bagi kaumnya, begitu pun Ia jadikan umat ini saksi atas manusia. H.R. At Tirmidzi
Gelar sebagai umat terpilih dan terbaik bagi umat muslimin, tentu bukan sekedar gelar yang diraih begitu saja. Tetapi sepantasnya dan seharusnyalah kaum muslimin dapat meraih, memperjuangkan, serta mempertahankan gelar tersebut menjadi umat terbaik dari seluruh umat.
Persaksian di Dunia dan Akhirat
Pilihan Allah swt. terhadap umat ini (muslimin) dimaksud sebagai wujud agar mereka menjadi saksi bagi seluruh manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
Oleh karena itu kau muslimin harus menjaga sebaik mungkin kemurnian iman serta kualitas amal salehnya, agar setiap kali melontarkan satu penilaian selalu menghasilkan sebuah penilaian yang netral dan jernih yang bersumber dari cahaya keimanan dan cermin kesalehan mereka.
Rasulullah saw. bersabda :
Hampir saja kalian tahu yang sebenarnya orang terbaik dan terjelek dari kalian. Para sahabat bertanya, “Dengan apa ya Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Dengan sebutan baik dan sebutan jelek dari kalian. Sebab kalian adalah saksi Allah di muka bumi ini. H.R. Ahmad dan Ibnu Majah
Walaupun sangat sulit untuk dibuktikan karena hanya Allahlah Yang Maha Tahu. Rasulullah saw. sangat mempertimbangkan penilaian kaum muslimin mengenai baik buruknya seseorang. Sebagaimana perkataan Jabir bin Abdillah, “Satu waktu Rasulullah saw. melayat jenazah Bani Salamah, aku ikut disamping beliau. Sebagian mereka berkata,”Demi Allah Ya Rasulullah! Dialah sebaik-baik orang, dia seorang muslimin saleh”. Mereka pun menyebut-nyebut kebaikanya. Rasul saw. bertanya, Benarkah yang engkau katakan itu?” sesorang menjawab,”Masalah batinnya hanya Allah yang tahu, tapi begitulah yang tampak pada kami”. Maka Nabi saw. bersabda, “Banar jika demikian tentu ia masuk surga’. Dilain waktu beliau melayat jenazah di Bani Haritsah, dan aku pun bersama beliau. Sebagian mereka berkata, “Ya Rasulullah saw! Dialah sejelek-jelek manusia, kasar sekali ucapannya”. Mereka pun menyebutkan kejelekannya. Rasul bertanya kepada sebagian mereka, ‘Benarkah yang engkau katakan itu?’ Orang iru menjawab, Msalah batinya hanya Allah yang tahu, tapi begitulah yang tampak pada kami. Maka Rasulullah saw. bersabda, ‘Jika benar demikian tentu ia masuk neraka. H.R. Al Hakim dam Ibnu Mardawaih
Pada riwayat lain Rasulullahbersabda,”Muslimin mana saja yang disaksikan kebaikannya oleh empat orang, maka Allah akan memasukkannya ke surga”. Kami bertanya, “Bagaimana kalau oleh tigaorang?” Tanya kami lagi, “Bagaimana kalau oleh dua orang?”Jawabnya,”Dua orang pun begitu”. Dan kami pun tidak menanyakan bagaimana kalau oleh seorang”. H.R. Ahmad
Riwayat ini menunjukan bahwa yang menjadi masalah bukan empat, tiga, dua orangnya, bukan kuantitasnya tetapi kualitas orang yang memberi kesaksian . Artinya dengan kualitas orang seperti apa, sewaktu hidupnya si mati bergaul hingga tahu segala amalnya yang dengan penilainya itu ia menjadi ahli surga atau neraka.
Di akhirat pun kaum muslimin akan menjadi saksi bagi seluruh umat lainnya. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda, “Nabi Nuh akan dipanggil pada hari kiamat, ia menjawab, ‘Ya Rabbi aku penuhi panggilanMu’. Ia ditanya, ‘Sudahkah engkau bertabligh?’ Nuh menjawab, ‘Ya. Kemudian ditanyakan kepada umatnya,’Apakah Nuh sudah bertabligh pada kalian?’ Mereka menjawab, ‘Tidak ada yang datang pada kami seorang pun pembawa ancaman’. Kemudian ditanyakan lagi kepada Nuh,’Siapa yang menjadi saksi bagimu?’ Ia menjawab,’Muhammad dan umatnya’. Maka mereka (kaum muslimin) memberi persaksian bahwasannya Nuh benar telah bertabligh... Umat-umat itu bertanya, ‘Bagaimana mungkin bisa memberi persaksian kepada kami orang yang tidak bertemu dengan kami?’. Allah swt. pun bertanya kepada kaum muslimin, ‘Bagaimana kalian memberi persaksian kepada orang yang tidak bertemu dengan kalian?’. Kaum Muslimin menjawab,’Ya Tuhan kami, engkau mengutus kepada kami seorang rasul, dan Engkau turunkan kepada kami janjiMu dan kitabMu. Engkau kisahkan kepada kami bahwasannya mereka (para nabi) telah bertabligh maka kami bersaksi dengan janjiMu’. Allah berfirman, ‘Mereka itu benar’.”H.R. Al Bukhari dan Ibnu Mubarak.
Khatimah
Bercermin dari keterangan-keterangan diatas, sebagai saksi Allah didunia dan akhirat, kita kaum muslimin hendaknya selalu menjaga kemurnian iman dan kualitas amal saleh, serta meghilangkan rasa permusuhan terhadap saudara sesama muslim, agar setiap penilaian kita selalu jernih dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kita hendaknya juga selalu waspada terhdapa siapa pun yang berdasarkan penilaian kita merupakan ancaman bagi Islam dan kaum muslimin, termasuk kewaspadaan atas mereka yang secara lahiriah wajahnya terbalut dengan berbagai ancaman kebajikan semu.
Wallahua’lambishshawab